Dekan FEB UNIKI Dr. M. Yusuf A. Samad Menerbitkan Buku Entreprenuership

Spread the love

Berawal dari konsep yang beliau kenal dari Pakar Ilmu Ekonomi pada program Pasca Sarjana Universitas Pasundan Bandung, Prof. H.M. Sidik Priadana, maka Dosen S2 Magister Manajemen UNIKI, Dr. M. Yusuf A. Samad, S.Pd.I, M.M memulai menulis bukunya dengan menyebutkan “Wira-usaha adalah ilmu yang bisa dipelajari dan diimplementasikan. Kunci wirausaha adalah keberanian. Keberanian dalam mengambil keputusan dalam bisnis yang didasari dengan kecukupan informasi yang diterima”, demikian konsep dalam karya monumentalnya bersama teman seangkatan di UNPAS Bandung, Dr. Otong Karyono.

Hampir selama 1 tahun, tuntas dikerjakan buku dengan judul Entreprenuership, setebal 331 halaman yang di terbitkan oleh Penerbit Lakeisha, tahun 2020 lalu.

Buku Entrepreneurship, dikaji dengan pendekatan atau perspektif Ilmu Pengetahuan, Empiris dan Agama, sebut Yusuf, seraya berharap “Kehadiran buku ini diharapkan bisa menjadi bahan bacaan dan rujukan bagi para mahasiswa dan pembaca secara umum yang tertarik dalam dunia Entrepreneurship”.

Dekan FEB UNIKI ini lalu menyebutkan; “Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam dan potensial untuk dikembangkan. Dengan memiliki kekayaan alam tersebut seharusnya memiliki dampak yang besar bagi peningkatan kegiatan perekonomian bangsa Indonesia yang ditandai dengan semakin makmurnya masyarakat Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi ironisnya, dengan segala sumber kekayaan alam yang dimiliki belum mampu menghasilkan sesuatu yang bermakna terutama bagi kemajuan sektor perekonomian, meskipun saat ini sudah terlihat adanya kemajuan, tetapi kemajuan tersebut belum dirasakan secara merata oleh rakyat Indonesia.

Doktor yang juga keseharaiannya aktif sebagai pendakwah ini, melanjutkan; “Kondisi lain yang cukup memprihatinkan bagi bangsa Indonesia masih tingginya nilai indeks kemiskinan dibandingkan dengan Negara lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Kalau kita buka data BPS, 2010, menunjukan bahwa jumlah penduduk miskin, penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan, di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta.  Ini artinya lebih dari 13 persweb dari penduduk.

Kondisi tersebut diperburuk oleh terjadinya dampak dari krisis ekonomi di Indonesia saat ini belum juga berakhir sehingga berdampak pada pengangguran. Berdasakan data kementrian Pendidikan Nasional dari 88,4% lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan 34,4% lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tidak melanjutkan ke SMA, belum lagi lulusan Perguruan Tinggi yang terus bertambah setiap tahun. Di sisi lain, sebut Yusuf, dari luar negeri tantangan muncul dengan AFTA (Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area) tahun 2003.

Konsekuensinya adalah tenaga kerja kita dalam berbagai sektor harus mampu bersaing dengan tenaga kerja asing dari Negara-negara tetangga di lingkungan Asean. Maka Doktor bidang MSDM ini menjawab, bahwa untuk hal ini, salah satunya adalah dengan menumbuhkembangkan entrepreneurship di masyarakat. Kita tahu, bahwa kegiatan entrepreneurship telah mampu memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga mampu bertahan dalam kondisi krisis karena tidak banyak risiko yang diterima.

Kalau kita kutif dari penelitian Hafsah di tahun 2004, kata Yusuf,  ia menyatakan bahwa usaha kecil dan menengah atau UKM, mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam  krisis  ekonomi  yang  terjadi  di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sektor UKM terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut.

Penelitian tersebut apabila dikaitkan dengan hadist rasulluloh yang diriwayatkan oleh A-Bazzar, sebut Yusuf, bisa kita simak yang maknanya: “Mata pencaharian apakah yang paling baik, Ya Rasulluloh?” Jawab beliau : Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih’ (HR. A-Bazzar).

Juga dari Hadist lainnya yang serupa dinyatakan oleh Buchari sebagai berikut : “Seseorang tidak pernah memakan makanan yang lebih baik daripada makan pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya nabi Allah Dawud AS. Senantiasa makan dari hasil tangannya.”

Jelaslah bahwa hadist dan hasil penelitian di atas mempunyai relevansi terhadap kewirausahaan atau entrepreneurship, terutama untuk jenis usaha mikro, kecil dan menengah merupakan mata pencaharian yang paling baik, lebih jauhnya bahwa hasil penelitian membuktikan secara empiris bahwa kegiatan kewirausahaan merupakan faktor yang strategis dalam meningkatkan kegiatan perekonomian terutama untuk masyarakat kecil dan menengah. Namun disayangkan bahwa fenomena yang terjadi saat ini, bangsa Indonesia masih dihadapkan pada kondisi yang dilematis, disatu sisi negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam sebagai unsur kekuatan perekonomian dan populasi masyarakat yang besar merupakan salah satu unsur pemasaran, namun  ternyata bahwa jumlah masyarakat yang bergerak dalam bidang usaha masih minim.

Dari amatan isi buku ini disebutkan: Menurut data yang diperoleh bahwa Indonesia baru mencapai 0,18% dari total seluruh penduduk yang bergerak di dunia usaha baik skala mikro, kecil, menengah dan besar (Alex dalam Hamdani, 2010). Menurut Bob Sadino (2008), jumlah pengusaha di negeri ini hanya 0,18 persen dari total penduduk atau hanya sekitar 400.000 orang dari penduduk lebih dari 200 juta jiwa. Padahal, di negeri sekecil singapura, jumlah pengusahanya 7,2% (persen) dan perekonomiannya maju pesat. Sebaliknya, dengan segala sumber kekayan alam yang dimiliki Indonesia, mayoritas penduduk negeri ini justru masih miskin.

Secara teoritis menyatakan bahwa suatu Negara akan mencapai tingkat kemakmuran apabila entrepreneur-nya paling sedikt 2% dari total jumlah penduduknya. Sebagai contoh pada tahun 1993 saja, di Amerika Serikat yang penduduknya 280 juta orang terdapat lebih dari 6 juta pelaku bisnis, atau 2,14% dari seluruh penduduknya. Itupun belum termasuk pengusaha- pengusaha kecil dan menengah. Karena itulah AS menjadi Negara makmur dan mereka menyebut entrepreneur sebagai pahlawan (an entrepreneur is a hero). (McClelland dalam Astamoen, 2005:11).

Oleh karena itu, simpul Yusuf dan Otong di buku ini; “Faktor yang menjadi akar permasalahan dari kurangnya kuantitas entrepreneur di Indonesia terdiri dari, Pertama, masyarakat Indonesia masih kental terhadap kultur yang masih memprioritaskan pekerjaan yang relative atau tanpa risiko seperti halnya pegawai negeri sipil, TNI, Polri atau bekerja di perusahaan-perusahaan lainnya). Kedua, masyarakat Indonesia masih menggunakan mitos bahwa kegiatan entrepreneurship merupakan bakat  bawaan yang dibawa sejak lahir dan tidak bisa diajarkan. Bakat tersebut diantaranya mencakup keagresifan, inisiatif, dorongan, kemauan untuk mengambil risiko, kemampuan analitis, dan kemampuan human relation. Hal ini sejalan dengan temuan David Hills dari Center for Creative Leadership, USA, bahwa setiap orang mampu untuk menjadi kreatif. Kreativitas itu bukan bakat, melainkan sesuatu yang dapat dipelajari (Hamdani, 2010). Ketiga, masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa entrepreneurship merupakan faktor genetik dari keluarga sehingga bagi mereka yang tidak mempunyai unsur keluarga yang berkecimpung dalam dunia bisnis beranggapan kesulitan dalam memulai usaha. Dan terakhir, masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa untuk memulai usaha diperlukan modal yang cukup dan kesulitan dalam masalah pemasaran.

Sehingga Yusuf dan Otong, menyebutkan; “Hal itu semua merupakan mitos yang berkembang di masyarakat, oleh karena itu sudah saatnya diupayakan perubahan secara signifikan terhadap mitos yang belum tentu tepat kebenarannya. Perubahan tersebut diantaranya adalah menggerakkan orang-orang yang mau menjadi pelaku ekonomi, yaitu sebagai entrepreneur. Gerakan itu tidak perlu secara menyeluruh, tetapi cukup dalam suatu lingkungan yang kecil – misalnya dari lingkungan rumah, perguruan tinggi, pondok pesantren, perusahaan, dan lain-lain—karena untuk memakmurkan bangsa cukup digerakkan oleh para pelaku ekonomi yang jumlanya hanya 2% dari jumlah penduduk Indonesia. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1995 tanggal 30 juni 1995 tentang gerakan Nasional Memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Inpres tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan.

Juga yufuf berharap, Pemerintah harus menyadari betul, dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional sehingga harus digenjot sedemikian rupa melalui berbagai departemen teknis maupun institusi-institusi lain yang ada di masyarakat.  Melalui gerakan ini, mimpi Yusuf, pada saatnya nanti budaya kewirausahaan diharapkan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang andal, tangguh, dan mandiri. Pemerintah juga telah menyusun suatu program yang ditujukan untuk menanamkan budaya wirausaha dengan sasaran para mahasiswa melalui berbagai program pendidikan ataupun praktik lapangan tentang kewirausahaan dan kepada masyarakat pada umumnya. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mempersiapkan masyarakat terutama perguruan tinggi agar memperoleh illmu dan intelektual yang tinggi, serta kecakapan hidup (life skills). (Disarikan oleh Konedi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *